banner 728x250

TUDINGAN BOHONG NOVAN: Paguyuban KPMS Semprot Balik, “Berhenti Drama Cengeng, Rakyat Datang Bawa Perut Lapar, Bukan Intimidasi!”

  • Bagikan
banner 468x60

GORONTALO – Panggung politik Gorontalo kembali memanas, bahkan cenderung mendidih. Pernyataan Novan Lahmudin yang menuding ada “skenario jahat” dan orkestrasi di balik kedatangan massa penambang ke kantornya langsung disambut bantahan yang super pedas dari elemen masyarakat Suwawa.

Bantahan ini tak sekadar menepis, melainkan menghantam balik Novan, menuduhnya sedang memainkan drama politik murahan demi mengalihkan isu dari masalah rakyat yang jauh lebih mendesak: PERUT LAPAR.

Example 300x600

Narasi “Warkop” Cuma Bualan Pengalihan Isu
Afandi Biga, Ketua Umum KPMS , yang mengaku mewakili “Tokoh Pemuda Suwawa Pro-Rakyat,” tak buang waktu. Ia menuding narasi Novan—khususnya soal Kris Wartabone menggalang massa di warung kopi—adalah “fiksi politik” yang sengaja diciptakan untuk membelokkan perhatian publik.

“Ini upaya pengecut untuk mendiskreditkan gerakan murni rakyat!” sembur Afandi. “Kedatangan penambang menemui Mikson Yapanto murni didorong oleh keputusasaan dan Hajat banyak orang atas hilangnya mata pencaharian mereka. Ini bukan soal orkestrasi satu tokoh, ini soal dapur rakyat yang terancam tidak ngebul!”
Afandi, perwakilan Pemuda, ikut menyentil tudingan pertemuan “gelap” di warkop.

“Pak Kris itu ‘Ayah’ bagi masyarakat Suwawa. Ketika ratusan nyawa resah karena kehilangan pekerjaan, wajar mereka mengadu ke ‘Bapak’ mereka di mana saja. Itu namanya menyerap aspirasi di garis depan, bukan merencanakan persekusi seperti yang difitnah! Justru, kehadiran Pak Kris adalah untuk menjaga agar rakyat yang marah tidak bertindak liar—sebuah peran yang seharusnya dimainkan oleh para pejabat, bukan malah menudingnya!”

Pejabat Publik “Bermain Korban”: Intimidasi? Itu Lebay!

Sorotan tajam diarahkan kepada Mikson Yapanto, yang disebut-sebut mengalami “tekanan” dan “intimidasi.” Masyarakat menilai klaim ini terlalu didramatisir dan mencerminkan sikap anti-kritik dari seorang pejabat publik.

“Istilah ‘intimidasi’ atau ‘tekanan’ itu sungguh LEBAY dan tidak bermartabat!” cetus Afandi dengan nada tinggi. “Rakyat datang berbondong-bondong karena mereka didesak oleh rasa lapar yang nyata! Mereka datang menuntut keadilan setelah sidak yang mematikan ekonomi mereka tanpa solusi satu pun!”

Afandi kemudian melontarkan ultimatum menohok: “Berhenti memosisikan diri sebagai korban yang cengeng ketika rakyat datang menuntut hak hidup! Sebagai Ketua Komisi II dan pejabat publik, Mikson seharusnya siap menghadapi konstituen dalam situasi apa pun. Jangan lari dari tanggung jawab dengan membangun narasi air mata!”

Lingkungan vs. Perut: Novan Diminta Berhenti “Jualan Politik”

Mengenai isu kerusakan lingkungan yang diangkat Novan, massa penambang tidak menampik. Namun, mereka menuntut solusi konkret ketimbang hanya retorika lingkungan yang mematikan ekonomi.

“Kami sepakat, lingkungan itu penting. Tapi, penertiban yang dilakukan pemerintah tanpa dibarengi solusi nyata seperti percepatan Izin Pertambangan Rakyat (IPR) adalah keputusan biadab yang membunuh perlahan!” tegasnya.
“Novan dan Mikson, dengarkan baik-baik!” tutup Afandi.

“Berhenti ‘jualan politik’ dengan isu lingkungan dan narasi intimidasi yang tidak berdasar! Rakyat tidak butuh drama politik Anda! Rakyat datang butuh SOLUSI untuk mengisi perut mereka, bukan INTIMIDASI yang kalian tuduhkan. Segera pikirkan solusi untuk perut rakyat, atau bersiaplah menghadapi kemarahan rakyat yang sesungguhnya!”

banner 325x300
banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *