banner 728x250

“Boneka” Stabilitas dan Pisau Bernama Ancaman: Orde Baru Belum Tamat di Bumi Bone Bolango

  • Bagikan
Rezaldath I. Kurniawan
banner 468x60

GORONTALO – Di dalam sistem Orde Baru, KKN adalah cara untuk mengumpulkan dan mendistribusikan kekayaan kepada kroni, sementara pengancaman adalah cara untuk mempertahankan keheningan agar praktik tersebut tidak terungkap dan digugat oleh rakyat.

Dua elemen ini bekerja bersama, menciptakan tirani yang dampaknya masih terasa hingga hari ini. Ini adalah sejarah yang pernah kita dengar bahkan ada yang pernah melaluinya.

Example 300x600

Namun, kita tidak boleh hanyut dalam ratapan pilu sejarah ini. Justru, pengangkatan kontroversial (merujuk pada praktik otoritarianisme) ini harus menjadi api yang membakar, memicu kesadaran kolektif untuk berdiri sebagai gerbong besar, sebagai corong kencang yang menyuarakan satu janji tak terbatalkan: TIDAK AKAN ADA LAGI REZIM SEPERTI ITU! Kita adalah benteng terakhir yang menjaga nyala demokrasi agar tidak kembali direbut oleh tangan-tangan besi yang haus kuasa.

Ketika Bone Bolango Menjadi Monumen Ironi

Di tengah gemuruh janji reformasi yang telah berusia seperempat abad, kita dihadapkan pada kenyataan yang mencabik-cabik di sebuah sudut negeri bernama Bone Bolango.

Ketika aktivis berdiri tegak, menyuarakan aspirasi, yang mereka dapatkan bukanlah sambutan dialogis, melainkan tuduhan pengganggu stabilitas daerah. Stabilitas macam apa yang harus dijaga dengan mengorbankan suara kebenaran? Bukankah stabilitas sejati berakar pada keadilan dan keterbukaan, bukan pada keheningan paksa?

Sungguh, ini adalah naratif yang memuakkan! Ancaman pembunuhan terhadap penyampai kebenaran, upaya-upaya menghalangi aktivis luar daerah untuk masuk—semua ini adalah cerminan praktik usang yang seharusnya telah terkubur bersama keruntuhan Orde Baru.

Lihatlah ironi yang memilukan ini: pernah ada demonstrasi di hadapan aparat hukum, bukan untuk menuntut keadilan, melainkan untuk melarang masuknya suara-suara luar yang berniat membantu perjuangan. Ini adalah upaya mengisolasi perlawanan, membiarkan kegelapan merayap tanpa saksi.

Warisan Otoritarianisme yang Belum Usai

Indonesia secara resmi telah menyatakan Orde Baru tamat. Tapi, Bone Bolango—di bawah bayang-bayang ketakutan dan pembungkaman—seolah menjadi kantong waktu di mana rezim lama belum benar-benar selesai. Ia terus bernapas dalam tindakan-tindakan represif, dalam mentalitas anti-kritik, dan dalam upaya-upaya membungkam setiap nada sumbang terhadap kekuasaan.

Kita menolak tunduk!

Luka yang ditinggalkan oleh otoritarianisme adalah memori kolektif yang tak boleh lekang. Kita terlahir dari rahim perlawanan, dan setiap intimidasi yang dilancarkan hari ini hanya menegaskan bahwa perjuangan belumlah paripurna.

Bangunlah! Setiap aktivis, setiap warga Bone Bolango, setiap hati nurani yang merasa terancam: teriakkanlah kebenaran itu dengan lebih lantang! Jadikan setiap ancaman sebagai bahan bakar, setiap pembungkaman sebagai alasan untuk melipatgandakan perjuangan.

Pahlawan yang hilang di tengah memperjuangkan Reformasi telah membayar mahal untuk ini. Jangan biarkan generasi mendatang mewarisi ketakutan dan rezim yang sama! Tunjukkan pada mereka yang berkuasa di daerah manapun, bahwa kedaulatan rakyat tidak bisa dikunci di balik gerbang atau dibungkam dengan ancaman mati!

Reformasi sejati adalah nyawa, dan Bone Bolango harus bernapas

banner 325x300
banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *