banner 728x250

Fitnah Terhadap “RSB” Dinilai Upaya Menutupi Dugaan Nepotisme di Bone Bolango

  • Bagikan
anto Ali, Aktivis Bone Bolango. Foto Istimewa
banner 468x60

BONE BOLANGO – Di tengah meningkatnya sorotan publik terhadap dugaan praktik nepotisme dan bagi-bagi proyek yang menyeret nama Bupati Bone Bolango Ismet Mile beserta keluarganya, muncul isu yang dinilai sebagai bentuk pengalihan perhatian.

Sosok pemuda berpengaruh berinisial RSB, yang selama ini dikenal dekat dan berperan penting dalam pemenangan Ismet Mile di Pilkada 2024, justru difitnah sebagai dalang upaya pelengseran Bupati.

Example 300x600

Aktivis Bone Bolango, Yanto Ali, menilai tuduhan tersebut tidak logis dan sarat muatan politik. Menurutnya, isu semacam itu hanya memperlihatkan kepanikan di lingkar kekuasaan yang tengah mendapat sorotan tajam dari masyarakat.

“Menuding RSB sebagai dalang politik adalah bentuk pengalihan isu yang terlalu jelas. Ini upaya menggeser perhatian publik dari persoalan utama: dugaan nepotisme dan penyalahgunaan kewenangan di lingkar keluarga Bupati,” ujar Yanto.

Tidak Memiliki Posisi Pemerintahan

Yanto menegaskan, RSB tidak memiliki jabatan apa pun dalam struktur pemerintahan daerah. Ia bukan pejabat eksekutif, tidak memegang kewenangan anggaran, dan tidak memiliki kapasitas menggerakkan instrumen pemerintahan.

“Kalau orang tanpa jabatan formal bisa dituding sebagai penggerak skenario politik, berarti yang berkuasa sedang takut pada bayangannya sendiri,” katanya.

Akar Masalah: Dugaan Nepotisme dan Bagi-bagi Proyek

Menurut Yanto, kegelisahan politik di Bone Bolango berakar pada dugaan praktik nepotisme dan pembagian proyek di lingkaran keluarga Bupati. Ia menyebut, berbagai temuan publik bukan muncul dari rekayasa, melainkan dari fakta yang tampak di permukaan.

Di antaranya, pelantikan anak kandung Bupati dalam tim kerja pemerintahan, dugaan keterlibatan dua anak Bupati dalam distribusi proyek, hingga rekaman suara yang diduga menyeret nama istri kedua Bupati dalam urusan proyek daerah.

“Ini bukan skenario, tapi kenyataan yang menuntut klarifikasi. Justru ketika rakyat bertanya, yang muncul malah fitnah kepada pihak lain. Itu tidak sehat bagi demokrasi daerah,” tambahnya.

Pengalihan Isu Adalah Bentuk Ketakutan

Yanto menilai, narasi pengalihan isu seperti ini adalah bentuk ketakutan menghadapi fakta hukum dan tekanan moral masyarakat. Ia menyebut, langkah tersebut justru memperburuk citra kepemimpinan daerah di mata publik.

“Setiap kali argumen habis, isu baru dimunculkan. Fitnah terhadap RSB adalah tanda ketakutan, bukan pembenaran,” ujarnya.

Lebih jauh, Yanto menegaskan bahwa memfitnah orang yang pernah berjasa hanyalah cara termudah untuk menutupi kesalahan sendiri, sekaligus cara tercepat kehilangan kehormatan.

“Bone Bolango tidak butuh drama politik. Yang dibutuhkan adalah kepemimpinan yang jujur, transparan, dan berani menghadapi kenyataan tanpa menyalahkan orang lain,” tutup Yanto Ali.

banner 325x300
banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *